Wisata Religi di Makam Angling Dharma dan Batik Madrim

Makam Prabu Angling Dharma

PATI, Tribunwisata.com - Makam Angling Dharma terletak di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di tempat peristirahatan terakhir Raja Malawapati ini, beberapa orang berkunjung untuk ziarah dan wisata religi (religious tourism).

Tidak jauh dari tempat itu, sekitar 2 kilometer, juga ada sebuah punden di sebuah masjid Desa Kedungwinong yang diyakini warga setempat sebagai makam Patih Batik Madrim.

Sedangkan 500 meter dari makam Sang Prabu, terdapat Sumur Jalatunda yang berada di dalam gua yang diyakini sebagai tempat bersemayam Eyang Pikulun Naga Raja.

Meski tidak ada bukti-bukti sejarah, seperti prasasti atau penemuan situs kerajaan, tetapi penduduk setempat menyakini bahwa tempat-tempat itu dulu menjadi saksi bisu kebesaran Malwapati Kingdom.

Sebagian traveler religi yang datang ke sini dari berbagai daerah, seperti Demak, Kediri, Jawa Timur, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Purwodadi-Grobogan, Sumatera, Kalimantan, dan lainnya. Selain memenuhi panggilan spiritual-gaib, tidak jarang dari mereka yang benar-benar berkunjung untuk mengagendakan wisata bersejarah.

Lokasi atau arah menuju Makam Angling Darma, Batik Madrim dan Sumur Jolo Tundo bisa ditempuh dari Kabupaten Grobogan-Purwodadi, Kudus atau Pati. Ketiga petilasan tersebut berada di kawasan lereng Pegunungan Kendeng.

Suroso, Juru Kunci Makam Prabu Angling Dharma yang akrab disapa Mbah Bungkuk saat didatangi Tribunwisata.com menceritakan kisah dan asal-usul Kerajaan Malawapati. Dulu, pada zaman ketika dunia manusia dan gaib masih mudah bersinggungan, ada sebuah kerajaan agung yang dipimpin seorang raja bernama Angling Dharma.

Dia adalah raja yang sakti mandraguna, memiliki seorang guru bernama Nogo Rojo. Sebagian sutradara televisi menyebutnya Naga Bergola. Selain sakti mengolah kanuragan, dia juga seorang negarawan yang ulung, bijaksana dan adil.

Sakti menguasai ilmu gaib dan kanuragan, negarawan atau politisi ulung, adil dan biijaksana, serta bisa menguasai bahasa binatang seperti Nabi Sulaiman. Sang Prabu mencerminkan sosok pemimpin ideal yang pernah ada di bumi Jawa, Nusantara, Indonesia.

Karena mengingkari janji untuk tidak ikut mati dalam sumpah pati obong bersama istrinya, dia akhirnya menjalani hukuman untuk mengembara. Saat itulah, dia bertemu dengan tiga bidadari cantik yang sebetulnya siluman pemakan manusia.

Dia dikutuk menjadi belibis putih dan terus mengembara hingga ke wilayah Bojanagara yang saat ini dikenal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di sana, dia bertemu seorang puteri cantik, anak Raja Bojanagara, akhirnya menikah dan memiliki anak bernama Angling Kusuma.

Setelah itu, Sang Prabu pulang ke Malawapati dengan memboyong puteri Raja Bojanagara. Sedangkan anaknya, Angling Kusuma meneruskan tahta kakeknya menjadi Raja Bojanagara yang saat ini menjadi Kabupaten Bojonegoro.

Karena itu, tidak salah jika ada petilasan Prabu Angling Darma di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. "Saya yakin, Kerajaan Malawapati ada di sini. Itu sebabnya, daerah ini dinamakan Dusun Mlawat yang diambil dari kata Malawapati. Tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu juga ada di sini," ujar Mbah Bungkuk kepada Tribunwisata.com, mengakhiri cerita dan kisah sejarah Angling Dharma.

Biasanya, pengunjung paling rame adalah Kamis malam Jumat. Adapun pasarannya adalah Selasa Kliwon. Beberapa pengunjung ada yang mengetahui penampakan Prabu Angling Dharma, tetapi tidak semuanya.

Di tempat itu pula, Mister Tukul Jalan-jalan Trans 7 pernah melakukan ekspedisi, jelajah dan syuting dengan paranormal Ki Soleh Pati. Sebagian orang, berkunjung ke tempat bersejarah dan situs-situs religi dianggap menyeramkan dan angker.

Namun, bagi wisatawan religi, justru tidak. Piknik batin dan spiritual memberikan kepuasan tersendiri. Beberapa penduduk setempat juga tidak yakin bila tempat-tempat itu adalah bekas Kerajaan Malwapati, karena tidak ditemukan situs-situs atau prasasti yang menunjukkannya.

"Kalau petilasan mungkin iya. Tapi kalau makam, saya kurang yakin karena juga banyak tempat di berbagai daerah di Indonesia yang juga diduga makam Angling Dharma dan Batik Madrim," ucap Kardi, penduduk setempat.